AWAL MULA
Peralihan lingkungan laut menjadi darat di pulau Jawa yang berlangsung pada awal zaman Kuarter (sekitar 2,5 juta tahun yang lalu) menjadi awal dimungkinkannya migrasi fauna ke pulau ini. Namun demikian, pembentukan daratan tidak terjadi secara serentak pada seluruh permukaan Pulau Jawa, melainkan bertahap mulai dari wilayah barat ke timur pulau.
![]() |
| Pembentukan Pulau Jawa Bertahap |
![]() |
| Ilustrasi situs bumiayu -+ 2 juta tahun lalu |
Bumiayu, beserta kandungan purba di dalamnya menjadi sangat penting dalam kronologi penghunian pulau Jawa karena diduga menjadi singgahan awal fauna darat sebelum mereka menyebar lebih jauh ke timur seperti yang ditemukan di Sangiran, Trinil, Kedungbrubus dan Ngandong (Harry dkk.)
Lingkungan fauna di Pulau Jawa
pada masa akhir Kala Pliosen sampai dengan Plestosen Awal terekam pada himpunan
Fauna Satir yang bercirikan fauna kepulauan (island fauna). Keanekaragaman
jenis pada himpunan fauna ini dipaparkan oleh van der Maarel yang menyatakan
bahwa komponen utamanya terdiri atas Sinomastodon bumiajunensis, Hexaprotodon
simplex, Cervidae dan Geochelone (kura-kura darat).
![]() |
| Jembatan Darat Purba |
Lalu kapan Homo Erectus hadir?
Satu hal yang pasti, hominid
pertama yang hadir di Bumiayu adalah jenis Homo erectus, yang diwakili oleh dua
bonggol (Bumiayu 303 dan Bumiayu 311) paha manusia, yang berasal dari horizon
tua, yaitu napal karbonatan di bagian bawah Formasi Kali Glagah.
![]() |
| Posisi Fauna dan Manusia di Situs Bumiayu |
Ekstrapolasi posisi
stratigrafis menunjukkan fase pembentukan daratan yang pertama di Bumiayu, pada
sekitar 1.8 juta tahun yang lalu. Oleh karena itu, kehadiran manusia
pertama kali di Bumiayu, dan sekaligus di Jawa, adalah Homo erectus arkaik pada
sekitar 1.8 juta tahun silam, yang saat itu berdampingan hidup di padang rumput
dengan binatang gajah (Sinomastodon), kuda air (Hexaprotodon simplex), jenis
rusa dan kijang (Cervidae), dan kura-kura raksasa (Geochelon).
Homo erectus bumiayuensis masih
melanjutkan kiprah dalam hidupnya di Bumiayu hingga setidaknya 0.9 juta tahun
yang lalu, dengan ditemukannya diaphysis femur Bumiayu 310. Pecahan tulang paha
manusia bagian tengah ini dikaitkan dengan himpunan artefak kapak
perimbas-penetak yang ditemukan di dasar Kali Gintung, dan oleh karenanya,
menunjukkan tingkatan evolusi yang kemudian, seusia dengan diaphysis femur
Kresna 11 dari grenzbank di Sangiran.
Dengan tiga fragmen tulang
hominid tersebut, dua jenis Homo erectus yang hidup di dua jaman berbeda
teridentifikasi di Bumiayu, keduanya mengembangkan teknologi alat batu dalam
tingkatan yang berbeda. Dalam konteks ini, himpunan fosil fauna, manusia, dan
artefak batu, merupakan kelompok data yang terkait dengan migrasi fauna dan
manusia yang paling tua di Pulau Jawa dari Kala Plio-Plestosen dan Plestosen
Bawah, sekitar 2 hingga 1.8 juta tahun yang lalu.
Sumber Pustaka:
Harry dkk, 2019, LAPORAN PENELITIAN ARKEOLOGI ‘MIGRASI PLIO-PLESTOSEN PADA POROS BUMIAYU-PRUPUK-SEMEDO: Kedatangan dan Persebaran Manusia dan Mamalia Tertua di Pulau Jawa’. Kemendikbud BPPT Arkeologi Balar Yogyakarta.




Comments
Post a Comment